infopariaman.com – Akses vital penghubung tiga nagari di Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, hingga kini masih terputus pasca ambruknya Jembatan Anduriang akibat bencana banjir bandang dan galodo pada November 2025.

Tiga nagari yang terdampak yakni Nagari Kayu Tanam, Nagari Anduriang, dan Nagari Guguak. 

Putusnya jembatan tersebut berdampak besar terhadap sekitar 30 ribu warga, terutama dalam hal mobilitas dan aktivitas ekonomi, termasuk distribusi hasil pertanian ke pasar.

Sejak kejadian itu, masyarakat terpaksa mengandalkan rakit darurat berbahan drum untuk menyeberangi sungai. 

Meski menjadi solusi sementara, sarana tersebut dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan.

Ketua Pemuda Nagari Anduriang, Afrizal, mengatakan rakit tersebut merupakan inisiatif pemuda setempat untuk membantu warga agar tidak harus memutar jauh.

“Ini solusi darurat supaya masyarakat tetap bisa beraktivitas. Tapi memang risikonya cukup besar, terutama saat arus sungai deras,” ujarnya.

Layanan penyeberangan ini pun bersifat sukarela, dengan biaya seikhlasnya, bahkan gratis bagi pelajar.

Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, memastikan pemerintah daerah bersama aparat terkait segera membangun jembatan darurat jenis Bailey.

Pembangunan dilakukan bekerja sama dengan Polda Sumatera Barat dan Korps Brimob sebagai langkah percepatan pemulihan akses masyarakat.

“InsyaAllah awal April kita mulai pembangunan jembatan Bailey agar akses masyarakat kembali terbuka,” ujarnya.

Jembatan darurat ini dirancang memiliki panjang sekitar 60 meter dengan lebar 4 meter, hasil penggabungan dua unit jembatan Bailey.

Selain itu, pondasi akan ditinggikan hingga 2–3 meter untuk mengantisipasi banjir susulan.

Proses pembangunan diperkirakan memakan waktu sekitar tiga minggu setelah tahap pondasi rampung.

Warga berharap pembangunan jembatan dapat segera selesai agar aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas kembali normal.

“Kalau harus memutar jauh sangat menyulitkan. Kami berharap jembatan cepat selesai,” ujar salah seorang warga.

Hingga saat ini, masyarakat masih bertahan menggunakan rakit darurat sembari menunggu realisasi jembatan yang lebih aman dan permanen dari pemerintah. (*)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *