infopariaman.com – Sebanyak 18 warga Kabupaten Padang Pariaman mendapat kesempatan memperoleh kaki palsu secara gratis melalui Program Kick Andy Seribu Kaki Palsu Gratis. Bantuan tersebut difasilitasi Polres Padang Pariaman bekerja sama dengan Kick Andy Foundation.
Tahap awal bantuan berupa pengukuran kaki palsu digelar di Aula Polres Padang Pariaman, Parik Malintang, Kamis (24/9/2026).
Kegiatan ini diikuti Kapolres Padang Pariaman AKBP Riyana Purwasari bersama jajaran, relawan Kick Andy Foundation Muhammad Fadhly, para penerima manfaat dan keluarga.
Dari 18 penerima manfaat, sebanyak 16 orang hadir langsung untuk menjalani proses pengukuran.

Sementara dua penerima lainnya tidak mengikuti pengukuran di Mapolres karena berada di lokasi berbeda.
Kapolres Padang Pariaman AKBP Riyana Purwasari menjelaskan, salah satu penerima merupakan tahanan kejaksaan yang saat ini berada di Lapas Pariaman.
Pengukurannya akan dilakukan langsung di dalam lapas oleh pengrajin kaki palsu dari Kick Andy Foundation.
“Satu penerima manfaat kebetulan merupakan tahanan kejaksaan yang berada di Lapas Pariaman. Sementara satu lagi merupakan warga Padang Pariaman yang berada di wilayah hukum Polres Pariaman,” kata Riyana.
Untuk penerima yang berada di Lapas Pariaman, proses pengukuran nantinya didampingi oleh petugas Polres Padang Pariaman. Sedangkan satu penerima lainnya berada di wilayah hukum Polres Pariaman.
Setelah proses pengukuran, kaki palsu akan mulai dibuat oleh pengrajin Kick Andy Foundation. Pengerjaan diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua minggu.
Riyana meminta penerima manfaat dan keluarga bersabar selama proses pembuatan berlangsung. Informasi mengenai perkembangan pengerjaan hingga jadwal penyerahan akan disampaikan kembali setelah kaki palsu selesai.
“Pembuatan kaki palsu dibutuhkan sekitar dua minggu. Nanti akan kami informasikan kembali perkembangannya, termasuk kapan dilakukan penyerahan,” ujarnya.
Untuk memudahkan komunikasi, penerima manfaat dan keluarga juga dapat berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas maupun kapolsek di wilayah masing-masing apabila membutuhkan informasi mengenai bantuan tersebut.
Riyana turut mengapresiasi jajaran Polres Padang Pariaman, khususnya kasat, kapolsek dan Bhabinkamtibmas yang telah melakukan pendataan hingga membantu menghadirkan penerima manfaat dalam kegiatan pengukuran.
Relawan Kick Andy Foundation untuk Padang Pariaman dan Sumatera Barat, Muhammad Fadhly, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari Program Kick Andy Seribu Kaki Palsu Gratis yang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan di berbagai daerah Indonesia.
Menurut Fadhly, keterlibatan Polres Padang Pariaman membantu mempertemukan program tersebut dengan warga penyandang disabilitas yang membutuhkan kaki palsu.
“Program ini untuk seluruh Indonesia. Kebetulan Ibu Kapolres memiliki kepedulian dan bekerja sama dengan Kick Andy Foundation untuk membantu warga kurang mampu yang merupakan penyandang disabilitas,” kata Fadhly.
Ia menyebut program serupa di Padang Pariaman telah beberapa kali dilaksanakan.
Kegiatan pemberian kaki palsu melalui Kick Andy Foundation di daerah tersebut disebut sudah memasuki pelaksanaan kelima atau keenam. Sebelumnya, bantuan kaki palsu juga pernah difasilitasi lembaga lain, salah satunya PT Angkasa Pura.
Selain pengukuran, penerima manfaat juga diminta mempersiapkan diri sebelum menggunakan kaki palsu yang baru.
Fadhly mengimbau penerima yang selama ini menggunakan kursi roda agar mulai melatih kemampuan berjalan menggunakan tongkat kayu selama menunggu proses pembuatan kaki palsu selesai.
“Selama dua minggu ini, kami berharap penerima manfaat, terutama yang masih menggunakan kursi roda, bisa berlatih berjalan dengan menggunakan tongkat kayu,” ujarnya.
Ia juga meminta keluarga dan Bhabinkamtibmas membantu memantau sekaligus mendokumentasikan perkembangan latihan para penerima dalam bentuk video.
Dari 16 penerima yang mengikuti pengukuran di Mapolres Padang Pariaman, beberapa di antaranya ternyata pernah memperoleh bantuan kaki palsu sebelumnya.
Namun, kaki palsu yang digunakan selama beberapa tahun tersebut kini tidak lagi sesuai dengan kondisi fisik penerima. Ada yang mengalami perubahan pada tinggi dan ukuran lingkar kaki, sementara sebagian lainnya mengalami kerusakan akibat digunakan untuk beraktivitas sehari-hari.
Beberapa penerima bahkan menggunakan kaki palsu tersebut untuk bekerja sebagai petani. Kondisi itulah yang membuat mereka kembali membutuhkan kaki palsu yang disesuaikan dengan kondisi fisik terkini.
Dengan adanya bantuan tersebut, para penerima kini tinggal menunggu proses pembuatan selesai sebelum kaki palsu diserahkan dan dapat kembali digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. (*)
