infopariaman.com – Tradisi “bungo lado” yang sering dijumpai dalam momen peringatan Maulid Nabi ini merupakan simbol hidup yang kaya makna bagi masyarakat Pariaman.
Budaya ini ditandai dengan kegiatan berbuat kebaikan yaitu berinfak dengan mengumpulkan sejumlah uang untuk pembangunan sarana ibadah.
Secara harfiah, bungo lado berarti bunga cabai. Dalam tradisinya, bunga capai merupakan pohon hias berdaun uang yang ditempel dirantingnya dengan nominal seribu sampai 100 ribu rupiah
Adapun cabai dalam masakan Minangkabau sudah tidak asing lagi karena ia memberi rasa pedas yang khas dan bikin nagih. Tapi lebih dari sekadar bahan dapur, bungo lado punya filosofi yang dalam.
Masyarakat Pariaman percaya, hidup itu ibarat bungo lado. Rasanya pedas, kadang bikin menangis, tapi sekaligus menguatkan dan membangkitkan semangat.
Sama seperti perjalanan hidup manusia yang idak selalu manis, tapi dari kepahitan itulah kita belajar menjadi tangguh.
Dalam pergaulan, istilah bungo lado sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang berkarakter kuat, berani bicara apa adanya, tapi tetap memberi warna dan manfaat bagi lingkungannya.
Orang Pariaman bangga bila disebut punya jiwa seperti bungo lado, karena artinya ia tidak mudah ditundukkan oleh keadaan.
Menariknya, bungo lado juga sering dijadikan metafora dalam pantun, dendang, hingga pepatah adat Minangkabau. Misalnya dalam ungkapan, “hidup bak bungo lado, walau kecil tapi makonyo terasa”. Artinya, sekecil apapun peran seseorang, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberi pengaruh besar bagi sekitarnya.
Tradisi kuliner di Pariaman pun menjadikan cabai sebagai identitas. Hampir semua hidangan di ranah Minang tak lepas dari sambal lado.
Filosofi bungo lado seakan menyatu dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya lewat kata-kata, tapi juga lewat cita rasa yang melekat di lidah.
Dengan begitu, bungo lado bukan hanya simbol pedasnya cabai, tapi juga lambang keberanian, semangat juang, dan keteguhan hati orang Pariaman.
Ia mengajarkan bahwa dalam hidup, rasa pedas tak perlu ditakuti justru dialah yang membuat hidup lebih berwarna. (M/F)
