infopariaman.com – Setiap kali bulan Maulid tiba, Kota Pariaman di Sumatera Barat tak hanya diramaikan oleh lantunan shalawat dan tausiah, tapi juga oleh sebuah tradisi unik yang mengundang banyak orang untuk duduk bersama yang disebut bajamba.
Tradisi ini biasanya digelar di surau, masjid, atau balai adat setelah acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Meja panjang digantikan oleh hamparan tikar, sementara hidangan tersusun rapi dalam talam besar yang bisa disantap bersama-sama.
Setiap talam biasanya diisi dengan nasi putih hangat, aneka gulai, rendang, ikan bakar, hingga lauk khas kampung.
Yang menarik, dalam bajamba tidak ada sekat antara kaya dan miskin, pejabat atau masyarakat biasa.
Semua duduk berjejer, menikmati hidangan dari talam yang sama. Di sinilah filosofi kesetaraan dalam Islam dan budaya Minangkabau berpadu: makan bersama sebagai simbol ukhuwah.
Menurut masyarakat setempat, bajamba bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi juga “mangumpuak hati” atau mengumpulkan hati yang tercerai-berai agar kembali erat dalam silaturahmi.
Bagi tuan rumah, menyajikan makanan di acara bajamba juga menjadi bentuk sedekah dan rasa syukur atas karunia.
Tradisi ini semakin istimewa karena jarang ditemui di daerah lain.
Banyak tamu dari luar kota yang datang ke Pariaman justru terpesona dengan suasana bajamba. Ada yang mengabadikan momen ini, ada pula yang pulang dengan cerita tentang bagaimana hangatnya masyarakat Pariaman berbagi dalam kebersamaan.
Di tengah zaman yang serba individualistis, bajamba seakan menjadi pengingat bahwa kebersamaan masih punya tempat. Satu talam, banyak tangan, tapi satu rasa: rasa persaudaraan.
Tak heran, bajamba bukan sekadar ritual Maulid, tapi juga warisan budaya yang terus dirawat di Pariaman. Selama Maulid masih dirayakan, bajamba akan selalu hadir, membawa semangat persaudaraan dari generasi ke generasi. (M/F)
