infopariaman.com Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-50 Tingkat Kecamatan Sintuak Toboh Gadang resmi dibuka pada Jumat (29/8/2025), bertempat di Masjid Raya Nagari Sintuak. Acara pembukaan berlangsung meriah dan khidmat, dihadiri oleh unsur pemerintah, tokoh masyarakat, serta ratusan peserta dan warga setempat.

Kegiatan diawali dengan arak-arakan kafilah dari lima nagari yang turut serta, menampilkan kekompakan dan kekayaan budaya lokal. Arak-arakan ini menjadi simbol semangat kebersamaan dalam menyukseskan kegiatan keagamaan dan pembinaan generasi Qur’ani di tingkat kecamatan.

Bupati Padang Pariaman yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Keuangan, Alfian, menyampaikan bahwa penyelenggaraan MTQ bukan sekadar ajang lomba tilawah, tetapi juga sebagai upaya menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang hakiki, kita meyakini dari sini akan lahir generasi Qur’ani yang berprestasi, tidak hanya di tingkat kecamatan, tetapi juga kabupaten, provinsi, hingga nasional dan internasional,” ungkap Alfian dalam sambutannya.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan prosesi serah terima piala bergilir MTQ dari Nagari Toboh Gadang Timur selaku juara umum sebelumnya kepada Camat Sintuak Toboh Gadang, kemudian diserahkan kepada Wali Nagari Sintuak sebagai tuan rumah tahun ini.

Sebagai tanda resmi dimulainya MTQ ke-50, Staf Ahli Bupati melepas balon ke udara yang diiringi letupan kembang api. Momentum ini menandai dimulainya kompetisi yang mempertemukan para qori dan qoriah terbaik dari lima nagari di kecamatan tersebut.

Sebelumnya, Wali Nagari Sintuak, Desrial, dalam laporannya menyampaikan bahwa MTQ tahun ini mempertandingkan lima cabang lomba, yaitu Tilawah, Tartil, Tahfizh, Khat, dan Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ), dengan total 21 kategori yang diikuti oleh 105 peserta.

Turut hadir dalam pembukaan kegiatan ini Kabag Kesra Mirwan, Kabag Perekonomian Mulyadi, Camat Sintuak Toboh Gadang beserta jajaran, wali nagari se-kecamatan, niniak mamak, alim ulama, perantau, dewan juri, para kamim, serta masyarakat sekitar yang memadati lokasi kegiatan. Rangkaian pembukaan ditutup dengan makan bajamba bersama, sebuah tradisi lokal yang menjadi simbol kebersamaan dan kekeluargaan antara peserta, panitia, tokoh masyarakat, dan warga. (A/F)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *